PERBEDAAN METODE KRIGING DAN IDW
A. Metode Interpolasi
Interpolasi adalah metode untuk mendapatkan data berdasarkan beberapa data yang telah diketahui (Wikipedia, 2008). Dalam
pemetaan, interpolasi adalah proses estimasi nilai pada wilayah yang tidak disampel atau diukur, sehingga ter-buatlah peta atau sebaran nilai pada selu-ruh wilayah (Gamma Design Software, 2005). Didalam melakukan
interpolasi, sudah pasti dihasil- kan. Error yang dihasilkan sebelum mela- kukan interpolasi bisa dikarenakan kesa- lahan
menentukan metode sampling data, kesalahan dalam pengukuran dan kesalahan dalam
analisa di laboratorium.
- Metode Kriging
Metode Kriging adalah
estimasi sto- chastic yang mirip dengan Inverse
Distance Weighted (IDW) dimana menggunakan kombinasi linear
dari weight untuk mem- perkirakan nilai diantara sampel data (Ctech Development
Corporation, 2004) Metode ini
diketemukan oleh D.L. Krige untuk memperkirakan nilai dari bahan tambang. Asumsi dari metode ini adalah jarak dan orientasi antara sampel data me- nunjukkan korelasi spasial yang penting dalam hasil interpolasi ESRI, 1996). Metode Kriging sangat
banyak mengguna- kan sistem komputer dalam perhitungan. Kecepatan perhitungan tergantung dari banyaknya sampel data yang digunakan dan cakupan dari wilayah yang diperhitungkan.
- Metode IDW
Metode Inverse Distance Weighted (IDW) merupakan metode deterministikyang sederhana dengan mempertimbangkan titik disekitarnya (NCGIA, 1997). Asumsi dari metode ini adalah nilai interpolasi akan lebih mirip pada data sampel
yang dekat daripada yang lebih jauh. Bobot (weight) akan berubah secara linear
sesuai dengan jaraknya dengan data sampel. Bobot ini tidak akan dipengaruhi oleh letak dari data sampel.
Metode ini biasanya digunakan dalam
industri pertambangan karena mudah untuk digunakan. Pemilihan nilai pada power sangat mempengaruhi hasil interpolasi. Nilai power yang tinggi akan memberikan hasil seperti
menggunakan interpolasi near- est neighbor dimana nilai yang didapatkan merupakan nilai dari data
point terdekat.
Kerugian dari metode IDW adalah nilai hasil interpolasi terbatas pada nilai yang ada pada data sampel. Pengaruh dari data sampel terhadap hasil interpolasi disebut sebagi isotropic. Dengan kata lain, karena metode ini menggunakan rata-rata dari data sampel sehingga nilainya tidak bisa lebih kecil dari minimum
atau lebih besar dari data sampel. Jadi, puncak bukit
atau lembah terdalam tidak dapat ditampil- kan dari hasil interpolasi model ini (Watson & Philip, 1985). Untuk mendapatkan hasil yang baik, sampel data yang digunakan harus rapat yang berhubungan dengan variasi lokal. Jika sampelnya agak jarang dan tidak merata, hasilnya kemungkinan besar tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Penentuan
nilai baru didasarkan pada data yang ada pada titik-titik sampel. Tanpa adanya
langkah interpolasi ini, maka analisis spasial tidak dapat dilakukan secara
akurat. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan interpolasi
spasial. Menurut Demers (2000), interpolasi spasial dapat diklasifikasikan
menjadi tiga, yakni global and local interpolation, exact interpolation and
inexact interpolation, deterministic and stochastic interpolation. Diantara
metode deterministik yang populer adalah Trend, Spline, Inverse
Distance Weighted (IDW) dan Kriging. Praktikum kali ini akan dibahas
penggunaan metode IDW dan Kriging untuk kajian curah hujan. Metode IDW dapat
dikelompokkan ke dalam estimasi determenistik, yakni interpolasi dilakukan
berdasarkan perhitungan matematika. Sementara metode Kriging dapat digolongkan
ke dalam estimasi stochastik, di mana perhitungan secara statistik digunakan
untuk menghasilkan interpolasi (Pramono 2008).
Metode IDW
merupakan metode interpolasi konvesional yang memperhitungkan jarak sebagai
bobot. Jarak yang dimaksud disini adalah jarak (datar) dari titik data (sampel)
terhadap blok yang akan diestimasi. Jadi semakin dekat jarak antara titik
sampel dan blok yang akan diestimasi maka semakin besar bobotnya, begitu juga sebaliknya.
Interpolasi
stochastic menawarkan penilaian kesalahan dengan nilai prediksi. Metode ini
mengasumsikan kesalahan acak. Contoh model ini yang populer adalah metode
Kriging. Metode Kriging merupakan estimasi stochastik yang mirip dengan IDW,
menggunakan kombinasi linear dari weights untuk memperkirakan nilai di antara
sampel data. Metode ini dikembangkan oleh D.L. Krige untuk memperkirakan nilai
dari bahan tambang. Asumsi dari model ini adalah jarak dan orientasi antara
sampel data menunjukkan korelasi spasial. Model ini memberikan ukuran error dan
confidence. Model ini juga menggunakan semivariogram yang merepresentasikan
perbedaan spasial dan nilai diantara semua pasangan sampel data. Semivarogram
ini menunjukkan bobot (weights) yang digunakan dalam interpolasi (Hadi 2013).
Penentuan
hasil pada metode IDW berdasarkan pada asumsi bahwa nilai atribut z (nilai yang
diestimasi) pada titik yang tidak didata adalah merupaka fungsi jarak dan nilai
rata-rata titik yang berada disekitarnya. Hasil interpolasi tergantung dari
seberapa kuat sebuah titik data yang diketahui mempengaruhi daerah di
sekitarnya. Selain itu juga jumlah titik di sekitarnya yang digunakan untuk
menghitung rata-rata nilai, serta ukuran pixel/raster yang dikehendaki.
Sedangkan penentuan hasil pada metode Kriging berdasarkan asumsi bahwa setiap
titik di dalam bentang alam saling berhubungan dan mempunyai sebuah trend.
Trend (persamaan matematis) yang digunakan untuk memprediksi titik yang tidak
memiliki data/informasi.
Sumber data yang digunakan praktikum kali ini berasal dari NOAA. Data
stasiun yang digunakan untuk interpolasi adalah 41 stasiun cuaca yang tersebar
di Indonesia, mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, sampai Papua (nama stasiun terlampir). Unsur iklim yang
diinterpolasikan adalah curah hujan.
DAFTAR
PUSTAKA
Had Hadi BS. 2013. Metode
Interpolasi Spasial dalam Studi Geografi. J Geomedia. Vol 11(2):231-240.
Pramono dan Gatot H.
2008. Akurasi Metode IDW dan Kriging untuk Interpolasi Sebaran Sedimen
Tersuspensi. Forum Geografi. Vol. 22(1):97-110.
NCGIA. 2007. Interpolation:
Inverse Distance Weighting. http://www.ncgia.ucsb.edu/pubs/ spherekit/inverse.html
(23 Juni 2008).
Watson DF &
Philip GM. 1985. A Refinement of Inverse Distance Weighted Interpolation. J
Geo Processing. Vol 2: 315-327.
Komentar
Posting Komentar